
Potty training atau toilet training adalah salah satu tahap penting dalam tumbuh kembang anak. Di momen ini, anak belajar mengenali tubuhnya, kebutuhan ke kamar mandi, dan mulai terbiasa melakukan BAK/BAB di toilet atau pispot sendiri. Untuk Ayah & Bunda, tantangannya bukan hanya bagaimana mengajari, tapi kapan waktu terbaik agar proses berjalan lancar, nyaman, dan tidak menimbulkan stres.
Berikut panduan lengkap tentang kapan memulai, tanda kesiapan anak, langkah persiapan, serta tips supaya potty training menjadi pengalaman positif bagi seluruh keluarga.
1. Mengapa Potty Training itu Penting
Potty training bukan sekadar soal hemat popok. Aktivitas ini menandai kemajuan anak dalam aspek fisik (kemampuan kontrol otot), kognitif (sadar kapan harus ke toilet), serta emosional (rasa mandiri, bangga) dan mulai menjalani rutinitas bersama keluarga.
Dengan melepas popok dan belajar ke toilet, anak juga belajar tanggung jawab terhadap diri sendiri–hal ini merupakan bagian penting dari pengasuhan positif. Ditambah, setelah anak bisa toilet training, pemakaian popok jadi bisa dikurangi, yang juga berdampak ke penghematan finansial keluarga. Namun, keberhasilan potty training sangat tergantung pada waktu dan kesiapan, bukan semata ikut “tren” atau melihat teman/sepupu sudah tidak pakai popok. Maka penting tahu “kapan” dan “bagaimana” potty training dengan bijak.
2. Kapan Waktu Terbaik Memulai Potty Training?
Usia anak bisa menjadi referensi, tapi yang lebih penting adalah melihat tanda kesiapan (ready signs) karena tiap anak tumbuh dengan kecepatan berbeda.
Menurut pendapat para ahli:
- Banyak anak menunjukkan kesiapan antara usia 1,5–2 tahun.
- Namun, bila kesiapan belum tampak, banyak ahli menyarankan menunggu hingga antara 18–24 bulan atau bahkan hingga usia 2,5–3 tahun.
“Usia” hanyalah panduan kasar ya, Ayah dan Bunda. Yang jauh lebih menentukan adalah apakah si Kecil sudah mulai menunjukkan tanda fisik, perilaku, dan kemampuan yang memastikan dia siap untuk potty training.
3. Tanda Si Kecil Sudah Siap Toilet Training
Sebelum memulai, perhatikan dulu tanda-tanda kesiapan berikut. Jika sebagian besar terpenuhi, kemungkinan besar anak siap belajar memakai toilet.
Fisik/perkembangan motorik:
- Anak sudah bisa berjalan dengan stabil, duduk, dan turun-naik kursi/pispot sendiri.
- Anak mampu melepas dan memakai celana sendiri–atau setidaknya mulai menunjukkan minat untuk melakukannya.
Kontrol tubuh & kandung kemih/usus:
- Popok tetap kering minimal 1–2 jam atau setelah tidur siang/kurang lebih stabil pola BAK/BAB–nya.
- Anak menunjukkan rasa tidak nyaman jika popoknya basah/kotor, seperti menarik popok, minta diganti, atau menghindar.
Kognitif & komunikasi:
- Anak bisa mengikuti instruksi sederhana, misalnya: “Ayo, kita ke kamar mandi.”
- Anak mulai menunjukkan minat ke toilet, misalnya penasaran ketika orang dewasa ke kamar mandi, menunjukkan keinginan memakai celana “anak yang sudah besar”, atau meniru anggota keluarga.
- Anak bisa memberi tahu (dengan kata atau gestur) jika hendak pipis atau pup.
Emosional/psikologis:
- Anak tampak nyaman, tidak takut atau menolak ketika diminta ke potty/toilet.
- Anak menunjukkan keinginan untuk “mandiri”. Hal ini penting agar belajar toilet training tidak terasa seperti paksaan.
Jika sebagian besar tanda ini sudah ada, itu indikator bagus bahwa si Kecil siap memulai potty training.
4. Begini Cara Memulai Potty Training dengan Tetap Nyaman
Kalau Ayah dan Bunda sudah memutuskan untuk mulai, ini langkah-langkah sederhana tapi efektif agar proses potty training anak berjalan mulus:
✅ Kenalkan Toilet/Pispot dengan Ramah
- Ajari anak bahwa tempat BAK/BAB adalah toilet atau pispot, bukan popok.
Bisa mulai dengan biarkan si Kecil duduk di potty saat popok diganti, tanpa tekanan harus BAK/BAB agar toilet terasa familiar.
✅ Gunakan Celana yang Mudah Dipakai & Lepas Sendiri
Pilih celana longgar tanpa banyak kancing atau resleting agar anak bisa belajar melepas dan mengenakan sendiri. Ini mendukung kemandirian dan membantu proses si Kecil.
✅ Buat Rutinitas Toilet dalam Sehari
Misalnya, ajak ke potty: setelah bangun tidur, setelah makan, sebelum mandi, atau sebelum tidur malam. Rutinitas akan membantu tubuh dan otak anak mengenali waktu BAK/BAB.
✅ Gunakan Pendekatan Positif & Puji Setiap Usaha
Saat anak berhasil atau sekadar duduk di potty, beri pujian, pelukan, atau tepukan. Ini akan memperkuat asosiasi positif terhadap toilet.
Jika terjadi “kecelakaan” (bagian dari proses belajar), tanggapi dengan tenang. Jangan marah atau membuat si Kecil merasa bersalah. Ulangi pelan-pelan dan konsisten.
✅ Jadikan Toilet Training Fleksibel & Tidak Terlalu Tegas
Pahami bahwa keberhasilan tidak datang secara instan, tapi bisa butuh waktu berminggu-minggu atau lebih. Jika anak menolak atau stres, sebaiknya berhenti dulu dan coba lagi beberapa minggu ke depan.
5. Tantangan Umum & Cara Mengatasinya
Potty training tidak selalu mudah, ada kalanya menemui hambatan. Berikut beberapa masalah yang sering muncul dan cara menanganinya:
- Anak menolak duduk di potty/toilet → jangan dipaksa. Coba lagi beberapa hari kemudian, beri dia waktu untuk terbiasa.
- Sering “kecelakaan”/celana basah → jadikan bagian dari proses belajar; tetap puji usaha, dan jadwalkan waktu pergi ke potty secara rutin.
- Sulit lepas popok di malam hari → kontrol di malam hari bisa muncul lebih lambat; banyak anak butuh waktu sampai 4–5 tahun untuk kontrol penuh di malam hari.
Perubahan rutinitas (liburan, pindah rumah, sakit) → sebaiknya undur proses training sampai situasi lebih stabil. Mulailah di saat keluarga sedang tidak sibuk agar lebih konsisten.
Pesan untuk Ayah & Bunda: Kesabaran & Konsistensi Kunci Sukses
Ayah dan Bunda perlu ingat bahwa potty training itu bukan lomba. Tidak ada “usia sempurna universal”. Yang paling penting adalah membaca kesiapan anak, baik secara fisik, emosional, maupun lingkungan.
Dengan pendekatan penuh pengertian, suasana positif, dan konsistensi, banyak anak berhasil melepas popok tanpa stres. Jadikan toilet training bukan sebagai beban, melainkan bagian dari perjalanan tumbuh kembang anak. Jadikan satu langkah kecil awal untuk menuju kemandirian.Ayah & Bunda, yuk mulai dengan observasi sederhana. Perhatikan tanda kesiapan, siapkan potty atau toilet kecil, andalkan rutinitas dan pujian. Karena saat anak berhasil bilang “Ayah/Bunda, aku pipis ke toilet!”, di situ kita akan melihat awal kemandirian dan tanggung jawab kecil anak.
Referensi:
https://www.alodokter.com/anak-anda-sudah-siap-diberikan-toilet-training
https://hellosehat.com/parenting/anak-1-sampai-5-tahun/perkembangan-balita/toilet-training
https://mcpress.mayoclinic.org/parenting/toilet-training-recognizing-readiness/?utm_
