
Ayah dan Bunda pasti sudah sering mendengar istilah “zat besi”, “anemia”, dan “stunting” ketika bicara soal kesehatan anak. Tapi, apa sebenarnya arti dari zat besi bagi tumbuh kembang anak dan kenapa kekurangannya bisa menjadi masalah serius?
Zat besi bukan sekadar nutrisi “pelengkap”. Bagi bayi dan anak kecil, zat besi adalah fondasi penting untuk membangun sel darah merah, mendukung perkembangan otak, memperkuat sistem imun, serta mendukung tumbuh kembang tubuh. Dengan memahami kebutuhan dan cara memenuhi zat besi anak sejak dini, Ayah dan Bunda bisa mengambil langkah nyata untuk mencegah anemia dan risiko stunting, lho. Simak selengkapnya di artikel ini!
1. Mengapa Zat Besi Begitu Penting untuk Anak
Zat besi berperan dalam banyak fungsi vital tubuh, terutama membantu produksi hemoglobin (sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh), termasuk organ vital dan otak. Tanpa asupan dan cadangan zat besi yang cukup, tubuh akan sulit menjalankan fungsinya optimal.
Untuk anak, zat besi juga sangat penting dalam mendukung:
- Pertumbuhan fisik: tulang, otot, sel darah.
- Perkembangan otak dan fungsi saraf: konsentrasi, daya ingat, kecerdasan.
- Sistem kekebalan tubuh: membantu melawan infeksi dan menjaga kesehatan secara umum.
- Energi dan aktivitas harian: anak aktif butuh suplai oksigen dan energi optimal yang dijamin lewat zat besi.
Oleh karena itu, Ayah dan Bunda tidak bisa menganggap enteng kecukupan zat besi, terutama di masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan dan usia dini.
2. Risiko Kekurangan Zat Besi: Anemia & Stunting
Anemia Defisiensi Zat Besi
Saat tubuh kekurangan zat besi, produksi sel darah merah dan hemoglobin menurun yang dapat mengakibatkan anemia defisiensi besi.
Gejalanya bisa muncul secara halus atau jelas, misalnya anak mudah lelah, lesu, tampak pucat, kurang bersemangat, cepat lelah saat bermain, mudah sakit, kurang nafsu makan, dan kadang susah konsentrasi.
Perlu Ayah dan Bunda ketahui, kondisi anemia pada anak tidak hanya mempengaruhi fisik, tapi juga perkembangan otak (mempengaruhi daya ingat, fokus, perhatian) dan bisa menurunkan potensi perkembangan kognitif.
Risiko Stunting
Lebih dari itu, berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan Anemia Defisiensi Besi (ADB) memiliki risiko lebih tinggi mengalami stunting, yaitu kondisi gagal tumbuh pada anak balita yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dan penyakit infeksi berulang, terutama yang terjadi pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).
Stunting bukan sekadar masalah tinggi badan, tapi juga berhubungan dengan perkembangan otak, imunitas, dan potensi kesehatan jangka panjang. Kekurangan zat besi yang tidak Ayah dan Bunda tangani sejak dini bisa menyebabkan anak gagal mencapai potensi tumbuh optimal.
3. Berapa Banyak Zat Besi yang Dibutuhkan Anak?
Kebutuhan zat besi berubah sesuai usia. Berikut pedoman umum berdasarkan referensi kesehatan:
Umur Anak*:
7–12 bulan: ± 11 mg/hari
1–3 tahun: ± 7 mg/hari
4–6/4–8 tahun: ± 10 mg/hari
*Angka dapat berbeda tergantung pedoman nasional (misalnya AKG) dan kondisi masing-masing anak.
Penting untuk diingat: bayi baru lahir memiliki cadangan zat besi dari ibu, dan selama 6 bulan pertama–jika ASI eksklusif–zat besi bisa tercukupi. Namun, setelah bayi mulai MPASI, kebutuhan zat besi meningkat dan Ayah dan Bunda harus memenuhinya lewat makanan.
4. Cara Memenuhi Kebutuhan Zat Besi Anak
Untuk memastikan si Kecil mendapat cukup zat besi, Ayah dan Bunda bisa lakukan cara berikut:
✅ Berikan Makanan Kaya Zat Besi (Heme & Non-Heme)
- Zat besi heme (lebih mudah diserap tubuh): daging merah, daging ayam, hati ayam/sapi, ikan, kerang.
- Zat besi non-heme (dari nabati): sayuran hijau (bayam, kangkung), kacang-kacangan, tempe/tahu, ubi, biji-bijian, dan buah kaya zat besi.
✅ Padukan dengan Makanan Tinggi Vitamin C
Vitamin C membantu tubuh menyerap zat besi non-heme lebih baik. Jadi, saat memberi sayur/kacang, kombinasikan dengan buah, seperti jeruk, jambu, pepaya, atau tomat.
✅ Perhatikan Cara Olah Makanan
Memasak terlalu lama atau memakai metode kurang tepat bisa mengurangi kandungan zat besi. Lebih baik gunakan teknik memasak yang menjaga nutrisi, seperti kukus, rebus ringan, atau tumis singkat.
✅ Pantau Asupan & Aktivitas Anak
Porsi makan, frekuensi, dan variasi makanan sangat penting. Pastikan anak makan 2–3 kali sehari plus camilan sehat. Zat besi juga dibutuhkan untuk energi dan aktivitas. Jadi, anak yang aktif sering membutuhkan lebih banyak asupan.
✅ Hindari Asupan yang Menghambat Penyerapan Zat Besi
Beberapa jenis makanan atau minuman, seperti susu sapi berlebihan, minuman berkafein, atau makanan berserat tinggi bisa menghambat penyerapan zat besi, terutama jika dikonsumsi berbarengan dengan sumber zat besi. Jadi, beri jarak konsumsi bila memungkinkan, ya.
5. Tanda Anak Kekurangan Zat Besi yang Perlu Orang Tua Waspadai
Perlu diingat, kekurangan zat besi di awal bisa sulit terdeteksi. Namun, jika Ayah dan Bunda melihat hal-hal ini, perlu dicek lebih lanjut:
- Anak gampang lelah, lesu, sering ngantuk, atau kurang bersemangat dibanding biasanya
- Nafsu makan menurun, sulit makan, atau berat badan tidak naik seperti seharusnya
- Kulit, bibir, kuku tampak pucat
- Sering sakit, mudah terserang infeksi, daya tahan tubuh melemah
- Perkembangan motorik atau kognitif melambat, misalnya anak sulit konsentrasi, cepat lelah saat bermain atau belajar
Jika gejala seperti ini muncul, ada baiknya memeriksakan ke dokter karena anemia atau defisiensi zat besi bisa diatasi jika cepat ditemukan.
6. Zat Besi & Pencegahan Stunting: Hubungan yang Penting
Penelitian menunjukkan, ada hubungan nyata antara defisiensi zat besi/anemia defisiensi besi (ADB) dan risiko stunting. Anak dengan ADB memiliki kemungkinan stunting lebih tinggi dibanding anak yang tercukupi zat besinya.
Zat besi mendukung pertumbuhan jaringan, sel, dan organ. Bila kurang, proses tumbuh bisa terganggu. Itu sebabnya, sejak MPASI dan seterusnya, memerhatikan asupan zat besi menjadi bagian penting dari upaya cegah stunting.
Dengan asupan zat besi yang cukup, melalui pola makan seimbang dan variatif, Ayah dan Bunda dapat membantu anak tumbuh, tidak hanya tinggi secara fisik, tapi juga sehat, aktif, dan cerdas.
Bantu si Kecil Tumbuh Sehat dan Cerdas
Anemia dan stunting bukan sekadar “masalah berat badan dan tinggi”, tapi juga bisa mempengaruhi potensi jangka panjang anak, kesehatan dan kecerdasan, bahkan produktivitas di masa datang.
Dengan memperhatikan asupan zat besi sejak dini–lewat MPASI, makanan bergizi, dan pola makan seimbang–Ayah dan Bunda bisa membantu si Kecil tumbuh sehat, kuat, aktif, dan cerdas.
Yuk, mulai dari menu hari ini. Beri anak makanan yang kaya akan zat besi, vitamin C, dan beri perhatian pada pola makan serta tumbuh kembangnya. Karena masa depan buah hati terlalu berharga untuk diabaikan.
Referensi:
